Dengan Membaca, Berarti Anda Menjelajah Dunia dan Membuka Wawasan Akan Lingkungan Sekitar
Buku yang kubaca selalu member sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi. (Abdurrahman Faiz)
Dengan Membaca, Berarti Anda Menjelajah Dunia dan Membuka Wawasan Akan Lingkungan Sekitar
Membaca tanpa merenungkan ibarat makan tanpa mencerna. (Edmun Burke)
Dengan Membaca, Berarti Anda Menjelajah Dunia dan Membuka Wawasan Akan Lingkungan Sekitar
Belajar membaca bagaikan menyalakan api, setiap suku kata yang di eja akan menjadi percik yang menerangi. (Victor Hugo)
Dengan Membaca, Berarti Anda Menjelajah Dunia dan Membuka Wawasan Akan Lingkungan Sekitar
Buku adalah mercusuar yang berdiri di tepi samudra waktu yang luas. (Edwin P. Whipple)
Dengan Membaca, Berarti Anda Menjelajah Dunia dan Membuka Wawasan Akan Lingkungan Sekitar
Buku, bagi seorang anak yang membaca, lebih dari sekadar buku. Tetapi, ia merupakan impian sekaligus pengetahuan dan masa depan sekaligus masa silam. (Esther Meynell)
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 September 2012
Mendobrak Batasan Semu
Batasan
Semu, artinya batasan yang bersifat utopia, khayalan, tidak sebenarnya,
palsu, dan semacamnya. Batasan semu yang saya maksud pada postingan
kali ini adalah batasan-batasan semu yang ada dalam kehidupan manusia.
Apa maksudnya? Mari kita pahami.
Dalam
kehidupan manusia, manusia diciptakan dengan keterbatasan-keterbatasan
tertentu, tiap individu dikaruniahkan otak oleh tuhan untuk digunakan
dalam mendobrak batasan-batasan yang ada. Mengapa demikian? Contoh,
orang pada zaman dahulu menganggap bahwa bumi ini datar, seperti piring
yang di dalamnya ada makhluk hidup, prinsip Aristoteles ini dipegang
teguh oleh manusia dalam waktu yang sangat lama, orang pada waktu itu
telah yakin bahwa bumi ini memang datar, karena memang seperti apa yang
mereka lihat, mereka tidak ada yang berani menyangkal karena batasan
semu ini tadi, sampai pada suatu saat muncullah seorang ilmuwan yang
bernama Galileo
Galilei yang berani mendobrak batasan semu ini tadi, bahwa semua yang
dinyatakan oleh Aristoteles adalah suatu kesalahan yang besar.
Sebenarnya
ada banyak batasan-batasan semu yang kita alami di dalam kehidupan
sehari-hari kita, tetapi kita tidak pernah menyadari akan hal itu. Terus
mengapa ada batasan semu ini? karena, kita mempunyai pikiran, pikiran
kita itulah yang sebenarnya menjadikan kita takut untuk mendobrak
batasan itu, oleh karena itu olah kembali apa yang ada diotak anda,
selidiki dahulu apakah itu benar atau tidak, seperti orang-orang dahulu
yang selalu tidak mudah percaya dan selalu ingin membuktikan, buktinya
tidak akan mungkin manusia bisa membuat pesawat terbang kalau dia hanya
berfikir dengan batasan semu yang menganggap bahwa yang bisa terbang itu
hanya burung yang bersayap.
Tuhan
memberikan kita batasan itu untuk kita lompati, untuk menguji apakah
kita bisa menemukan kebenaran akan sesuatu hal. Jadi, bagaimana cara
kita agar bisa mendobrak batasan-batasan itu? Jawabannya terapkan
prinsip "jangan mudah percaya", kita ragukan suatu hal dan kita buktikan
bahwa apa yang kita ragukan kita itu benar dan terapkanlah rasa ingin
tahu yang kuat dalam hidup kita. Manusia diciptakan mempunyai nafsu,
tidak pernah puas, dan selalu penasaran, jadi gunakanlah itu untuk
mendobrak batasan-batasan semu dengan tindakan yang positif.
sumber : http://gumanta-info.blogspot.com
Minggu, 22 Juli 2012
Garam dan Telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" Ujar Pak tua itu.
"Asin. Asin sekali!" Jawab sang pemuda, sambil meludah ke samping.
Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke telaga dekat rumahnya. Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.
"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!" Kata Pak Tua.
Usai pemuda mereguk air itu, beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar." Sahut sang pemuda.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?" tanya beliau lagi.
"Tidak" Jawab si pemuda.
Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung pemuda itu, "Anak muda, dengarlah...
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak
lebih dan
tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air
yang kau
rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita
rasakan dalam
hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Beliau melanjutkan nasehatnya, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah
tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan
jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam
setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.“
sumber : http://presentasimenarik.com/tata-cara-presentasi.php













